Sahabat MQ, Anak adalah amanah dari Allah SWT. Ia dilahirkan dalam kondisi bersih dan suci seperti selembar kertas yang putih. Orang tuanya lah yang berperan dalam menentukan apa dan seperti apa isi dari kertas putih tersebut. Jika orang tuanya mengisi dengan “coretan” kebaikan, maka anak tersebut akan menjadi baik pula. Namun bila orang tuanya mengisi dengan “coretan-coretan” yang buruk, maka anak tersebut akan memiliki watak yang buruk pula.
Tanggung jawab mendidik anak pun diberikan oleh Allah terutama kepada kedua orang tuanya, sehingga ayah dan ibu harus mampu menjadi sebuah tim yang kompak. Akan tetapi di balik tanggung jawab yang Allah berikan itu, ada reward yang luar biasa yang. Ada 3 amalan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita telah meninggal dunia. Tiga amalan itu adalah sedekah, ilmu yang bermanfaat, serta doa dari anak sholih untuk orang tuanya. Dengan demikian bila kita mampu mendidik anak kita sehingga menjadi anak yang sholih dan sholihah, maka doa yang ia panjatkan akan terus mengalir kepada kita sebagai orang tuanya.
Anak juga dapat diibaratkan seperti 2 sisi mata uang, di satu sisi ia dapat menjadi hiasan, akan tetapi di sisi yang lain ia juga dapat menjadi ujian bagi orang tua. Anak menjadi hiasan karena ia mampu membuat hati kedua orang tuanya bahagia, dan ia dapat pula menjadi cobaan manakala ia membuat orang tuanya lalai dari beribadah kepada Allah SWT.
Lalu pendidikan apa saja yang harus diberikan orang tua kepada anaknya ?. Allah telah berfirman dalam surat Luqman ayat 12-19 bahwa paling tidak ada 3 hal yang harus kita ajarkan kepada anak kita, yakni keimanan/aqidah, ibadah, serta tingkah laku.
- Rasulullah pun telah memberikan contoh 9 cara mendidik anak, antara lain :
1.Orang tua merupakan teladan utama
2.Memilih waktu yang tepat untuk memberi nasihat, misalnya saat jalan-jalan, saat makan, atau ketika anak sedang sakit.
3.Adil dan tidak pilih kasih
4.Memenuhi hak-hak anak, yaitu memberikan nama yang baik pada anak dan kasih sayang
5.Mendoakan anak
6.Memberikan mainan yang bermanfaat
7.Membantu anak untuk berbakti
8.Tidak mencela dan memaki mereka
Sahabat MQ, Ada kalanya kita sebagai orang tua berada dalam kondisi emosi ketika menghadapi anak dan tidak jarang dalam kondisi ini kita lepas kendali. Untuk mengantisipasi hal ini kita dapat mengambil nafas dan mengembuskannya pelan-pelan, melihat pemandangan yang menyenangkan (seperti tumbuh-tumbuhan) dalam jangka waktu tertentu setelah itu baru kembali menghadapi anak, atau berwudlu.
Di samping itu, ada kalanya pula kita harus menghadapi anak yang sedang marah dan uring-uringan. Akan tetapi anda tidak perlu khawatir sahabat MQ, karena ada beberapa langkah yang dapat anda coba : Buatlah posisi anda sejajar dengan tinggi anak, tatap matanya dengan pandangan kasih sayang dan arahkan tatapan matanya pada mata anda, belai punggungnya dengan lembut, dan tanyakan dengan halus apakah ia marah atau kesal hingga ia mengakuinya, baru kemudian anda dapat masuk memberi nasihat-nasihat padanya.
Semoga anak-anak kita dapat menjadi anak yang sholih dan sholihah. Amin.
Narasumber : Eva Susanti


